Penjamah Makanan / Tenaga pengolah

Pengertian menurut KEPMENKES No. 1098 tentang Hygiene Rumah Makan dan Restoran : “ Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan, sampai dengan penyajian”.

Untuk memperoleh kualitas makanan yang baik perlu diperhatikan dan diawasi mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku tenaga pengolah. Tujuannya untuk menghindari terjadinya penularan penyakit melalui makanan yang disebabkan tenaga pengolah makanan.

Menurut (Sidik Warsito :1999), ada dua permasalahan pokok kejadian penyakit menular melalui makanan karena penjamah makanan, yaitu :

1. Bahwa timbulnya suatu penyakit menular melalui makanan kalau diselidiki umumnya bersumber pada tenaga pengolah makanan yang bekerja pada status sakit,

2. Bahwa apabila melalui penelitian sumber tersebut diketahui, maka umumnya dapat disimpulkan bahwa timbulnya kejadian penyakit menular melalui makanan itu disebabkan dari tenaga pengolah makanan yang bekerja secara ceroboh dan kurang hati-hati atau masa bodoh.

Pengolah harus memenuhi syarat kesehatan diantaranya : harus berbadan sehat dengan mempunyai surat keterangan kesehatan. Dalam surat tersebut ditetapkan bahwa seorang pengolah makanan harus :

  1. Bebas dari penyakit kulit.
  2. Bebas dari penyakit menular.
  3. Bukan pembawa kuman.
  4. Bebas dari penyakit pernapasan yang berbahaya (TBC, Pertusis, dll.)
  5. Telah menyuntikan diri secara rutin dengan vaksin Typhus, Disentri.
  6. Memiliki pengetahuan tentang Hygiene perorangan dan sanitasi makanan.

Tenaga pengolah makanan diharapkan mempunyai sertifikat kesehatan sebelum diizinkan kerja disuatu pabrik makanan. Pengetahuan dan sikap tenaga pengolah hendaknya mengerti dan memahami tentang Hygiene dan sanitasi perorangan dan makanan.

Yang perlu diperhatikan dari perilaku tenaga pengolah makanan selama bekerja adalah :

  1. Tidak mengobrol atau merokok selama mengolah makanan.
  2. Tidak makan atau mengunyah selama mengolah makanan.
  3. Tidak memakai perhiasan.
  4. Tidak menggunakan peralatan dan fasilitas yang bukan peruntukannya.
  5. Selalu mencuci tangan atau kaki dengan sabun sebelum dan sesudah bekerja, dan setelah keluar kamar kecil.
  6. Selalu memakai pakaian kerja dan pakaian pelindung dengan benar.
  7. Pakaian kerja harus selalu bersih dan dipakai hanya pada waktu bekerja.
  8. Tenaga pengolah makanan harus memakai tutup kepala untuk menghindari rambut atau kotoran masuk ke dalam makanan.
  9. Tangan, kuku, kulit, rambut, gigi harus selalu bersih.
  10. Bila bersin atau batuk, mulut atau hidung harus ditutup dengan sapu tangan.
  11. Memegang alat-alat pada tempatnya, misalnya peganglah sendok dan garpu pada tangkainya, jangan memegang gelas pada bibirnya.
  12. Dilarang memegang atau mengambil makanan yang sudah dimasak dengan tangan telanjang.

Usaha untuk melindungi makanan dari kontak langsung dapat dilakukan dengan :

  1. Sarung tangan plastik sekali pakai.
  2. Penjepit makanan.
  3. Sendok dan garpu.

Sedangkan untuk melindungi makanan dari pencemaran digunakan :

  1. Celemek.
  2. Tutup rambut.
  3. Sepatu dapur.
  4. Tutup mulut.
  5. Pakaian kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: